Ketua DPD Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Maluku Utara, Arjun Onga..

MALUT – Ketua DPD Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Maluku Utara, Arjun Onga, mengecam keras tindakan penindasan bangsa atas bangsa yang terjadi dalam serangan militer terkoordinasi yang dilakukan oleh Amerika Serikat bersama Israel terhadap Iran.

Serangan udara tersebut dilaporkan menyasar sejumlah target strategis di Iran pada Sabtu kemarin dan menjadi puncak dari meningkatnya ketegangan geopolitik yang terus memanas dalam beberapa minggu terakhir.

Berdasarkan media Resmi Secara Nasional Maupun Internasional, Operasi militer Amerika itu menargetkan fasilitas yang berkaitan dengan program nuklir, sistem rudal balistik, serta pusat komando militer Iran.

Pemerintah Amerika Serikat menamai operasi tersebut Operation Epic Fury, sementara Israel menyebutnya Operation Roaring Lion.

Dalam pernyataannya, Arjun Ongga menegaskan bahwa tindakan militer tersebut merupakan bentuk nyata dari praktik penindasan bangsa atas bangsa yang berpotensi menimbulkan penderitaan besar bagi rakyat sipil.

“Sebagai Ketua DPD GMNI Maluku Utara, kami mengecam keras segala bentuk penindasan bangsa atas bangsa. Serangan militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran tidak hanya memperkeruh situasi geopolitik dunia, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak kemanusiaan yang besar bagi rakyat sipil,” tegas Arjun Ongga.

Menurutnya, prinsip kemerdekaan dan kedaulatan setiap bangsa harus dihormati sebagaimana nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh bangsa Indonesia sejak masa perjuangan melawan kolonialisme. Ia menilai konflik bersenjata hanya akan memperpanjang penderitaan rakyat dan memperbesar potensi instabilitas global.

Secara historis, hubungan antara Amerika Serikat dan Iran memang telah lama diwarnai ketegangan. Permusuhan antara kedua negara sering ditelusuri sejak peristiwa Kudeta Iran 1953 ketika badan intelijen Amerika, Central Intelligence Agency (CIA), membantu menggulingkan Perdana Menteri Iran Mohammad Mossadegh setelah kebijakannya menasionalisasi industri minyak.

Upaya kudeta tersebut kemudian mengembalikan kekuasaan Mohammad Reza Pahlavi yang dikenal pro-Barat, namun kebijakannya memicu ketidakpuasan luas di dalam negeri hingga berujung pada Revolusi Iran 1979 yang dipimpin oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini. Sejak saat itu, Iran secara terbuka menentang pengaruh Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Arjun menyoroti ketika Ketegangan kembali meningkat setelah peristiwa Krisis Penyanderaan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Teheran pada 1979–1981 yang menyebabkan putusnya hubungan diplomatik kedua negara dan pemberlakuan berbagai sanksi ekonomi terhadap Iran.

“Meski Iran merupakan negara yang mempunyai memori kolektif sebagai bangsa yang kuat secara kebudayaan dan kemiliteran, namun Iran ketika diembargo oleh AS hingga perang terbuka dalam beberapa hari terakhir patuh diberikan  kecaman, mengingat konfrontasi tersebut dapat mempengaruhi kondisi ekonomi dan politik Indonesia,”ungkapnya.

Arjun Ongga juga menegaskan bahwa GMNI sebagai organisasi kader yang berlandaskan nilai-nilai nasionalisme dan anti-imperialisme memandang konflik bersenjata sebagai ancaman serius bagi perdamaian dunia, terutama peristiwa menyejarah yang sudah menyeret negara-negara bagian teluk sebagai proxy Amerika.

“Kami menyerukan kepada seluruh komunitas internasional untuk mengedepankan dialog, diplomasi, dan penyelesaian damai. Penindasan bangsa atas bangsa adalah bentuk kolonialisme moderen yang bertentangan dengan semangat kemerdekaan dan kemanusiaan,” ujarnya.

Ia juga mengajak masyarakat internasional untuk menolak segala bentuk agresi militer yang berpotensi memperluas konflik di kawasan Timur Tengah serta berdampak pada stabilitas global.

DPD GMNI Maluku Utara menegaskan komitmennya untuk terus menyuarakan solidaritas terhadap rakyat yang menjadi korban konflik serta mendorong terciptanya perdamaian dunia yang adil dan berkeadaban