Andrean Drakel Biro Lingkungan Hidup PB PMII
Biasanya kalau kita mendengar setiap pumuka agama berbicara tentang peran agama yang mereka imani, seringlai yang paling menonjol adalah hubungan antara manusia dengan Tuhanya atau manusia dengan sesama. Padahal, dari sudut pandang Islam ada tiga hubungan dasar dalam Islam yang tidak bisa diabaikan satu sama lain, yaitu Hablum Minallah, Hablum Minannas, dan Hablum Minal Alam.
Hablum Minallah, yaitu Hubungan dengan Allah “Habl” yang artinya tali. Jadi ini tali penghubung manusia dengan Tuhannya. Bentuknya seperti ibadah, doa, dzikir, ketaatan, dan kesadaran bahwa hidup ini tidak terlepas dari Allah. Kalau ini putus, orang gampang kehilangan arah dan terasa hampa.
Sedangkn Hablum Minannas yaitu hubungan dengan Sesama Manusia. Ini soal aspek sosialinya, yaitu Keadilan, empati, tolong-menolong, menjaga silaturahmi, tidak berbuat zalim ke orang lain. Ini berarti Islam tidak cuma mengurus sholat dan puasa. Kalau tetangga kelaparan tapi kita abai, berarti tali ini sudah pasti sedang bermasalah.
Begitupulah dengan Hablum Minal Alam, yaitu Hubungan dengan Alam. Ini yang belakangan makin disorot karena krisis lingkungan yang semakin marak. Dalam hubungan ini, alam dipandang sebagai makhluk Allah juga, bukan cuma objek buat dieksploitasi. Merusak hutan, buang sampah sembarangan, menyiksa hewan, dan sebaginya termasuk kategori merusak hablum minal alam.
Kenapa ketiga hubungan ini penting? Karena pada dasarnya Islam tidak memisahkan antara spiritual, sosial, dan ekologi. Namun seiring berjalan waktu, salah satu hubungan di antara ke tiga hubungan ini perlahan mulai terabaikan, yaitu hubungan manusia dengan alam, Hablum Minal Alam. Hal ini lantaran manusia, tidak terkecuali umat Islam masi dilema dalam mempertegas hubungan ini. Bahkan yang paling ironi, masi mengangap alam sebagai objek yang berfungsi sebagai bahan untuk diekspolitasi.
Barulah ketika terjadi bencana alama di mana-mana akibat krisis ikilm seperti banjir, kekeringan, kebakaran hutan dan sebagainya, tokoh-tokoh agama berbondong-berbondong mulai angat bicara tentang pelestarian bumi. Dari mimbar, pesanteren, rumah ibadah, madrash hingga kampus, wacana terebut marak digaungkan. Semangat inilah yang kemudian melandasi Kementrian Agama RI mengulirkan program penguatan ekoteologi, sebuah gerakan yang berupaya membangkitkan kesadaran umat beragama untuk merawat bumi.
Yang menjadi sorotan dalam konteks ini adalah bagaiman kementrian Agama RI menempatkan konsep ekoteologi sebagai tangung jawab moral dan spritual untuk umat beragama. Di beberapa kesemptan, Menteri Agama RI yaitu Nasaruddin Umar berpendapat bahwa konsep ini bukan hanya lahir dari keresahan akibat krisis iklim yang semakin memprihatin, tatapi juga kembali mempertanyakan eksitensi manusia yang memiliki peran besar untuk menjaga bumi ini, di mana manusia tidak boleh memperlakukan bumi hanya sebagai objek pengekspolitasian belaka.
Secara praksis, Kementrian Agama RI mendorong penerapan ekoteologi di beberapa sektor, termasuk di dalamnya adalah pendidikan (Pesantren dan Perguruan Tinggi) melalui program penghijauan, gaya hidup hemat energi, dan pola konsumsi ramah lingkungan sebagai perwujudan dari ibadah ekologis. Sekilas, pandangan ini nampak progresif karena konsep ini mengintegrasikan kesadaran lingkungan dengan nilai-nilai agama yang menekankan hubungan sinergis antara manusia, alam, dan Tuhan (man, nature, and god).
Sayangnya, bilah kita cernah lebih dalam lagi, konsep yang dikemukakan oleh kementrian Agama RI tidak serta-merta menunjukan akar permasalahan yang fundamental. Fenomena yang kerap disebut bencana alam seolah-olah karena akibat dari minimnya kesadaran manusia dalam menjaga alam saja, ini diafirmasi dengan pernyataan bahwa ekosistem kita mulai rusak karena kita gagal membangun persahabatan dengan alam semesta. Tidak sepenuhnya salah, namun masi terlalu kabur. Bukan manusia secara abstrak mestinya, melainkan manusia yang dimaksud harus diperjelas dalam sistem ekonomi sosial yang konkret, yakni kelas pemodal dalam sistem kapitalis.
Dalam tulisan berjudul kapitalisme menghancurkan bumi, yang ditulis oleh Jason Wijaya, krisis alam yang semakin parah pada dasarnya sangat dipengaruhi oleh eksploitasi alam yang dilakukan secara berlebihan oleh kelas kapitalis untuk mengejar profit. Pembabatan hutan hujan, pengerukan perut bumi karena aktivitas pertambangan, pencemaran sungai dan laut dengan limbah kimia dan plastik, adalah alasan kenapa alam semakin bergejolak.
Bencana alam yang terjadi sering kali dihubungkan sebagai sesuatu yang tanpa sadar diciptakan oleh manusia sendiri. Namun sesungguhnya tidak seluruh umat manusia yang bertanggung jawab akan hal ini. Situasi ini bukan diciptakan oleh orang-orang miskin. Sebaliknya, Kelas kapitalis lah yang bertanggung jawab atas semua ini. Kenapa demikian? Karena kapitalisme tumbuh dengan dorongan yang inheren dalam dirinya untuk memperoleh keuntungan jangka pendek dan mengorbankan kebutuhan jangka panjang.
Indonesia sendiri menjadi salah satu negara dengan tingkat kerusakan lingkungan yang paling tinggi. Pembabatan hutan secara besar-besaran di Sumatra, Kalimatan dan Papua, kemudian aktivitas industri ekstraktif yang dilakukan secara serampangan di Sulawesi dan Maluku adalah pangkal dari masifnya deforestasi di Indonesia. Hal tersebut menyebabkan hutan di Indonesia semakin menyusut dari tahun ke tahun.
Menurut A. Sonny Keraf, sistim pemerintah Indonesia telah digrogoti oleh elitisme ekonomi, alias dipenuhi oleh gerbong kapitalis si pemilik modal. Kebijakan politik, tertuma yang berkaitan dengan lingkungan hidup selalu di pengaruhi oleh kolusi dan nepotisme. Alahsil, kebijakan yang pro-terhadap lingkungan hidup tidak memiliki akar yang kuat, sebab dinamika politik di Indonesia selalu berputar-putar pada kepentingan elit yang notabennaya kalau bukan pemilik modal, pasti yang mendukung pemilik modal. Sisitim pemerintah yang labil seperti ini sangat rentan dimanfaatkan untuk melipatgandakan keuntungan melalui ekspolitasi sumber daya alam.
Problem lingkungan hidup tidak bisa dilihat semata sebagai masalah teknis. Kalau cara pandangya seperti itu, maka solusi yang ditawarkan juga akan bersifat teknikal seperti menanam pohon, membuang sampah pada tempatnya, matikan lampu di saat siang hari, atau yang paling mengelitik metikan konfor setelah masak. Padahal problem lingkungan hidup adalah masalah yang nampak di hilir, artinya ada maslah yang serius di hulu yang perlu untuk diselesaikan.







