Irjan Sam Ketua Cabang PMII Tikep.


Mgn-news.com, Tikep – Ketua Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, (PMII) Kota Tidore Kepulauan (Tikep), Irjan Sam, menilai Kepala Sekolah SMP Negeri 24 Tikep tidak memahami prinsip dasar komunikasi organisasi dalam menjalankan kepemimpinan di lingkungan sekolah.

Pasalnya, berbagai persoalan internal yang terjadi di SMPN 24 Tikep selama ini berakar dari buruknya pola komunikasi antara kepala sekolah dengan para guru, khususnya guru honorer yang selama ini mengabdi dengan upaya agar mampu mendedikasikan diri mereka untuk generasi mudah di desa Mare Kafo.

“Seorang pemimpin lembaga pendidikan seharusnya mampu membangun komunikasi yang terbuka, manusiawi, dan partisipatif. Yang terjadi di SMPN 24 TIKEP justru sebaliknya. Banyak kebijakan lahir tanpa dialog, tanpa musyawarah, dan itu menunjukkan lemahnya pemahaman komunikasi organisasi” ujar Irjan, Pada hari Kamis (05/02/25.)

Ia menegaskan, komunikasi organisasi bukan sekadar menyampaikan perintah, tetapi menciptakan ruang saling menghargai antar unsur sekolah. Jika komunikasi dijalankan secara sepihak, maka yang muncul adalah ketegangan, ketidaknyamanan kerja, bahkan penderitaan bagi tenaga pendidik.

Irjan juga menyoroti posisi guru honorer yang dinilainya paling terdampak dari gaya kepemimpinan tersebut. Alih-alih dilindungi dan diberdayakan, para guru kampung justru kerap menjadi pihak yang tertekan secara psikologis maupun administratif.

“Guru honorer ini tulang punggung pendidikan di kampung. Kalau mereka diperlakukan tanpa empati dan tanpa komunikasi yang sehat, maka kepala sekolah sedang merusak ekosistem pendidikan itu sendiri,” tegasnya.

Lanjut, Irjan meminta Dinas Pendidikan Tikep agar tidak menutup mata terhadap situasi ini. Ia mendesak agar dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap pola kepemimpinan dan manajemen komunikasi di SMPN 24 Tikep.

“Kalau dibiarkan, ini bukan lagi soal individu, tapi soal masa depan pendidikan anak-anak Marekofo. Diamnya dinas hanya akan memperpanjang masalah” pungkasnya.

Pernyataan Irjan ini menunjukan perannya sebagai pemudah Mare Kofo dengan harapan agar pola kepemimpinan yang harus lebih mengedepankan sikap terbuka agar tiang menimbulkan kegaduhan baik di tingkat siswa maupun tenaga guru honorer.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Kepala Sekolah SMPN 24 TIKEP belum memberikan keterangan resmi terkait kritik tersebut.