Ketua DPD Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Maluku Utara, Arjun Onga saat orasi didepan Sekretariat DPD Demokrat Provinsi Maluku Utara.

TERNATE— Aliansi Mahasiswa Pemuda (AMP) Maluku Utara menggelar aksi unjuk rasa di depan Sekretariat Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat Provinsi Maluku Utara, Kelurahan Tanah Tinggi, Kamis (2/4/2026).

Aksi tersebut dilakukan untuk mendesak DPD Demokrat agar menjatuhkan sanksi tegas kepada salah satu kadernya, Aksandri Kitong. Politisi muda tersebut diduga melontarkan pernyataan bernada provokatif, intoleran, hingga mengarah pada tindakan kriminal.

Ketua DPD Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Maluku Utara, Arjun Onga, menyatakan bahwa sebagai figur publik, Aksandri semestinya menjadi teladan dalam menjaga etika dan nalar publik. Namun, pernyataan yang mengarah pada kekerasan dan sikap antipati terhadap literasi dinilai telah mencederai ruang publik yang sehat.

“Kalimat ‘membunuh’ bukanlah diksi yang pantas keluar dari mulut seorang pejabat. Itu bukan sekadar kata, melainkan cermin cara berpikir yang berbahaya jika dibiarkan,” ujar Arjun dalam orasinya.

Menurut Arjun, masalah ini sudah menjadi rahasia umum, sehingga partai politik maupun Badan Kehormatan (BK) DPRD Maluku Utara sudah sepatutnya mengambil langkah tegas untuk menonaktifkan.

Ia menegaskan bahwa tuntutan AMP bukan semata-mata menyerang individu, melainkan upaya menjaga marwah lembaga agar kekuasaan tidak berjalan tanpa kendali moral.

Dalam orasinya, Arjun juga menyoroti komentar Aksandri terkait pelarangan menghadiri lauching buku karya Komaruddin Nursi Kasman Abdul Rahim putra dari Kasman Hi. Ahmad seorang tokoh muslim di Halmahera Utara. Pelarangan tersebut dinilai sebagai bentuk provokasi yang memuat ujaran kebencian dan sikap anti terhadap kemajuan literasi.

“Sejarah telah mengajarkan, ketika literasi dipandang sebagai ancaman, di situlah kemunduran mulai dirawat,” tegasnya.

Ia menambahkan, upaya melanggengkan kekuasaan dengan membiarkan rakyat tetap dalam kebodohan adalah bentuk pengkhianatan yang nyata.

“Hari ini, bayangan (pengkhianatan) itu seakan menemukan wujudnya,” pungkas Arjun.