Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Maluku Utara, dr. Julys Giscard Kroons.

Ternate – Upaya Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Maluku Utara (Malut) mencegah lonjakan Penyakit Menular Seksual (PMS) yang disebabkan oleh virus Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immunodeficiency Syndrome, (HIV/AIDS) masih saja terus dilakukan.

Langkah ini diambil mengingat penyebaran HIV/AIDS tidak hanya berasal dari penduduk Malut, melainkan dari luar. Kebanyakan dari mereka adalah para pekerja tambang sehingga proses penanganan membutuhkan kerja sama lintas sektor.

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes), dr. Julys Giscard Kroons, mengungkapkan, jika saat ini kasus penyebaran HIV/AIDS sesuai hasil laporan final 2025 Dinkes Malut, Kabupaten Halmahera Utara memiliki jumlah kasus tertinggi, yaitu 240 kasus, disusul urutan kedua adalah Kota Ternate dengan jumlah kasus 237, sementara pada posisi ketiga ada Kabupaten Halmahera Tengah dengan jumlah kasus sebanyak 207.

“Terkait dengan HIV/AIDS, kasus yang agak tinggi itu di Halmahera Utara, Kota Ternate dan Halmahera Tengah” ungkap Julys.

Hasil laporan final 2025 Dinkes Malut, menunjukan Kabupaten Halmahera Utara memiliki angka kasus tertinggi, disusul Kabupaten Halmahera Tengah dan Kota Ternate, (Sumber Dinas Kesehatan Provinsi Maluku Utara).

Hal ini menimbulkan rasa kekhawatiran akan adanya lonjakan di tahun-tahun berikutnya. Maka, untuk mengurangi peningkatan jumlah PMS, Dinkes Malut melakukan pencegahan hingga pemantauan ketat dengan menggandeng seluruh kabupaten/kota, agar lonjakan HIV/AIDS tidak bertambah setiap tahun.

Mulai dari penyuluhan masyarakat dan pemberian obat-obatan dilakukan rutin oleh petugas kesehatan di Pusat Layanan Kesehatan (Puskesmas) pada tingkat kecamatan. Sementara di daerah Tambang, kegiatan yang sama juga dilakukan, mulai dari sosialisasi hingga pemeriksaan kesehatan masyarakat yang ada di wilayah kerjanya.

“Langkah-langkah pencegahannya sudah tentu melakukan edukasi kepada masyarakat, agar menghindari perilaku-perilaku yang beresiko, terus kita bekerja sama dengan lintas sektor stakeholder, untuk mensosialisasikan terkait pentingnya memperkuat hubungan keluarga” ujarnya.

Aksi nyata Dinkes Malut dengan memperkuat hubungan keluarga merupakan bentuk dukungan emosional sehingga membentuk komunikasi terbuka, meningkatkan kepercayaan diri, agar para keluarga terhindar dari hubungan seksual yang beresiko.

Selain itu, kata Julys, Peningkatan kualitas dan kapasitas petugas pelayanan di Puskesmas terus dilakukan, sehingga mempermudah masyarakat mendapatkan akses dan para petugas dapat melakukan diagnosis.