Sumber Foto : Opan Jacky.


Halmahera – Juli 2026, Sebuah film dokumenter tentang kehidupan Suku Tobelo Dalam (O’Hongana Manyawa) tengah diproduksi sebagai upaya mendokumentasikan kekayaan budaya, pengetahuan tradisional, serta hubungan harmonis masyarakat adat dengan hutan Halmahera.

Dokumenter ini diharapkan menjadi media edukasi sekaligus sarana pelestarian warisan budaya Indonesia yang semakin langka. Istilah “Togutil” masih sering digunakan oleh masyarakat, namun banyak anggota komunitas dan peneliti lebih memilih penyebutan Tobelo Dalam atau O’Hongana Manyawa, karena istilah “Togutil” memiliki konotasi yang dianggap kurang tepat.

Proses produksi dilakukan di kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata dan sejumlah wilayah adat di pedalaman Pulau Halmahera dengan mengedepankan prinsip penghormatan terhadap adat istiadat, budaya, dan ruang hidup masyarakat adat. Tim produksi bekerja melalui pendekatan partisipatif, membangun komunikasi dengan tokoh adat, masyarakat setempat, serta pihak-pihak terkait agar seluruh proses dokumentasi berlangsung secara etis dan menghormati hak-hak masyarakat adat.

Film dokumenter ini akan menampilkan berbagai aspek kehidupan masyarakat Tobelo Dalam, mulai dari pola hidup yang bergantung pada hutan, sistem pengetahuan lokal, tradisi berburu dan meramu, nilai gotong royong, hingga hubungan spiritual mereka dengan alam. Selain itu, dokumenter juga merekam berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat adat di tengah perubahan zaman, termasuk tekanan terhadap ruang hidup dan pentingnya menjaga kelestarian hutan sebagai sumber kehidupan.

Melalui pendekatan sinematik yang humanis, dokumenter ini berupaya menghadirkan sudut pandang yang menghargai martabat masyarakat adat, bukan sekadar menampilkan keunikan budaya, tetapi juga memperlihatkan nilai-nilai universal tentang kehidupan, keberlanjutan, dan keharmonisan manusia dengan alam.

Produser sekaligus Ketua Tim Pelaksana, Muhammad Sofyan Ansar, atau yang lebih dikenal dengan sapaan Opan Jacky, mengatakan bahwa film dokumenter ini lahir dari kepedulian terhadap pentingnya menjaga warisan budaya masyarakat adat agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.

“Film dokumenter ini bukan hanya tentang merekam kehidupan Suku Tobelo Dalam (O’Hongana Manyawa), tetapi tentang menghadirkan kisah mereka dengan penuh rasa hormat. Kami ingin menunjukkan kepada dunia bahwa mereka memiliki pengetahuan, nilai-nilai kehidupan, dan hubungan yang sangat kuat dengan alam. Semoga film ini menjadi jembatan yang menghubungkan masyarakat luas dengan kearifan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun, sekaligus mengajak semua pihak untuk bersama-sama menjaga kelestarian hutan dan menghormati hak-hak masyarakat adat” jelas Opan.

Ia menambahkan bahwa seluruh proses produksi dilakukan dengan mengedepankan etika dokumenter, membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat adat, serta memastikan setiap proses pengambilan gambar menghormati adat istiadat, privasi, dan ruang hidup komunitas yang didokumentasikan.

“Kami percaya bahwa setiap budaya memiliki cerita yang layak didengar. Dokumenter ini adalah bentuk penghormatan kepada masyarakat adat yang selama ini menjadi penjaga hutan Halmahera. Besar harapan kami, film ini dapat menginspirasi generasi muda untuk lebih mencintai budaya Indonesia dan ikut berperan dalam menjaga keberagaman yang menjadi kekayaan bangsa” ujarnya.

Film dokumenter ini direncanakan akan diputar pada berbagai forum kebudayaan, lembaga pendidikan, festival film dokumenter, serta platform digital sebagai media pembelajaran dan promosi kebudayaan Indonesia.

Melalui karya ini diharapkan semakin banyak masyarakat mengenal kehidupan O’Hongana Manyawa secara lebih utuh, menghargai hak-hak masyarakat adat, serta mendukung berbagai upaya pelestarian budaya dan lingkungan demi keberlangsungan warisan budaya Indonesia bagi generasi mendatang.