Gubernur Sherly Tjoanda.


Sofifi – Komitmen Gubernur Sherly Tjoanda dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi di sektor perkebunan kelapa kembali membuka peluang yang menjanjikan bagi masyarakat Maluku Utara.

Meski daerah yang dipimpinnya tengah dilanda defisit fiskal karena penerapan efisiensi dari Pemerintah Pusat, upaya inovasi serta kolaborasi bersama kementerian terkait tetap ia rajut demi menjawab harapan sesuai potensi daerah, yaitu pengembangan sektor pertanian.

Hal itu Sherly buktikan dengan coba melakukan pemberdayaan petani kelapa tanpa harus menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) dengan menawarkan potensi daerah kepada kementerian Pertanian, guna mendukung hilirisasi di sektor perkebunan maka, puluhan ribu hektar lahan yang terbagi di seluruh kabupaten kota bakal dimanfaatkan untuk budidaya tanaman kelapa.

Gubernur Sherly mengatakan jika Pemprov Malut memiliki rencana besar terkait pemanfaatan lahan tidur serta penambahan pabrik olahan buah kelapa di daerah guna menyediakan pasar kepada petani lokal yang siap menjual kelapa mereka di pabrik olahan.

“Kedepan nantinya kami akan manfaatkan lahan-lahan tidur untuk penambahan buah kelapa yang di tanam dan menambah pabrik” ungkap Sherly.

Hal itu ditambahkan oleh Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian Anwar Husen, jika luas lahan tersebut bakal ditanam dengan 2.160.000 bibit kelapa. Bibit-bibit ini dibeli langsung dari tangan-tangan subur petani Maluku Utara.

“Bibit kelapa ini diambil langsung dari dalam daerah kemudian diperuntukkan untuk dua kegiatan, pertama tanam baru, kedua peremajaan” ungkap Anwar.

Anwar menjelaskan jika kegiatan peremajaan diperlukan karena terdapat sejumlah tanaman kelapa para petani sudah masuk rentang usia sehingga keberadaannya cukup tinggi maka perlu diganti dengan tanaman baru.

Bibit kelapa yang dibeli langsung dalam daerah ini dihargai per buah sebesar Rp. 30.000. jika dikalikan dengan harga dan jumlah bibit yang bakal dibeli (Rp 30.000 x 2.160.000 bibit kelapa) maka anggaran yang bakal digelontorkan melalui APBN tersebut berkisar Rp. 64.800.000.000.

Dengan nilai yang begitu fantastis, kebijakan ini diharapkan bakal memberikan dampak ekonomi nyata kepada petani kelapa karena mampu dirasakan langsung oleh mereka.

Upaya ini bukan tanpa alasan, Sherly menyadari jika diverifikasi ekonomi Maluku Utara dengan angka pertumbuhan mencapai 30,9 persen merupakan angka yang dihasilkan dari hilirisasi industri pertambangan nikel.

Sementara potensi daerah seperti perikanan dan pertanian selama ini sering mengalami tekanan pasar yang fluktuatif. Jika tidak dikelola menjadi komoditas pasaran, sewaktu-waktu harga mentah mengalami penurunan yang berdampak pada kerugian petani. Namun, dengan adanya industri olahan kelapa PT. NICO yang sempat Gubernur Sherly bersama Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman kunjungi beberapa bulan lalu di Kabupaten Halmahera Utara, memberikan kabar baik ketika hasil olahan berupa minyak kelapa murni dan santan kelapa Maluku Utara tembus ke pasar Tiongkok.

Data BPS menunjukkan jika tingkat pertumbuhan ekonomi Malut di sektor mikro mengalami lonjakan yang cukup signifikan karena dipengaruhi oleh potensi pengembangan industri hilirisasi kelapa. Nilai total produksi kelapa dan kopra Maluku Utara yang besar; menempati peringkat keempat di Indonesia. Produktivitas per hektar dari perkebunan kelapa di Maluku Utara menunjukkan tren yang positif.

Data tahun 2024 menunjukkan produktivitas produksi kelapa mencapai 1,28 ton kelapa per hektar nya. Meningkat dari angka terburuk di tahun 2022 yang berkisar pada 0,98 ton per hektar.