Penulis : Imran Tahir
Dalam perjalanan hidup, saya merasa sangat beruntung pernah mengenal seorang sahabat yang bukan hanya hadir sebagai teman berbagi, tetapi juga sebagai sosok panutan yang penuh inspirasi. Ironisnya, pertemuan awal kami justru dilandasi oleh perbedaan pandangan yang cukup tajam—saya bahkan sempat menganggapnya sebagai lawan.
Perkenalan itu bermula ketika saya dipercaya sebagai penanggung jawab pembangunan satuan permukiman transmigrasi di Halmahera Timur. Saat itu, nama Salim Taib santer diberitakan di berbagai media massa. Melalui tulisan-tulisan kritis di surat kabar, ia mengkritik keras kebijakan transmigrasi, yang menurutnya hanya memperkaya pendatang dari Jawa dan memiskinkan warga lokal Halmahera Timur.
Pandangan kami bertolak belakang. Namun, perbedaan itu justru mempertemukan kami dalam sebuah diskursus panjang dan mendalam. Kami duduk bersama, berdiskusi secara terbuka tentang program transmigrasi yang dibangun tak jauh dari desa kelahirannya, Wasileo—desa kecil di Kabupaten Halmahera Timur tempat ia dilahirkan 47 tahun silam.
Dari perdebatan yang semula penuh tensi, kami mulai saling memahami. Kami menyadari bahwa perbedaan pandangan bukanlah tembok pemisah, melainkan jembatan menuju pemahaman yang lebih utuh. Kami sepakat bahwa di balik segala kekurangan, program ini tetap memiliki manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.
Seiring waktu, saya mengenal lebih dekat siapa sosok Salim Taib sebenarnya. Seorang pemimpin yang membesarkan organisasi dari nol, dengan penuh dedikasi dan tanpa pamrih. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum Cabang PMII Ternate, hingga dipercaya memimpin GP Ansor Provinsi Maluku Utara.
Saya menyaksikan sendiri perjuangannya dalam membangun organisasi. Ia menghadapi berbagai tantangan dengan kepala tegak, tanpa pernah mengeluh, tanpa mencari pujian apalagi imbalan. Baginya, melihat organisasi tumbuh, memberi manfaat, dan menjadi wadah pengembangan kader adalah sebuah kepuasan tersendiri.
Salim Taib adalah sosok yang mampu menyatukan banyak kepala dan hati dalam satu visi. Ia tahu kapan harus menjadi pendengar yang baik, dan kapan harus berdiri paling depan. Dalam setiap keputusan, ia selalu mengedepankan kepentingan bersama. Dalam setiap kesulitan, ia menjadi penopang semangat. Dan dalam setiap keberhasilan, ia tak pernah menempatkan dirinya sebagai pusat perhatian.
Dedikasinya yang tulus dan pengabdiannya yang tanpa pamrih menjadi pelajaran berharga bagi saya: bahwa kepemimpinan sejati bukan soal kekuasaan, tetapi tentang ketulusan dan keberanian untuk melayani.
Kini, ketika saya mendengar bahwa sahabat saya, Salim Taib, mencalonkan diri sebagai Ketua IKA PMII Provinsi Maluku Utara, saya tidak ragu sedikit pun. Saya percaya, PMII Maluku Utara akan sangat beruntung jika dipimpin oleh sosok seperti dia—karena saya tahu siapa dia. Dia adalah Salim Taib. Sahabat, Pemimpin, dan Pengabdi sejati.







