Tokoh muda Halmahera Timur (Haltim), Fardal (Istimewa)
SOFIFI — Pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Provinsi Maluku Utara yang berpusat di basement Masjid Raya Shaful Khairaat, Sofifi, menuai sorotan tajam. Berbagai pihak, mulai dari tokoh pemuda hingga tokoh agama, menyuarakan kekecewaan mendalam atas buruknya fasilitas, manajemen kepanitiaan, hingga pernyataan kontroversial dari Wakil Gubernur Maluku Utara.
Tokoh muda Halmahera Timur (Haltim), Fardal, yang hadir langsung dalam pembukaan agenda tersebut, menyayangkan minimnya anggaran penataan acara keagamaan ini. Ia secara blak-blakan membandingkan alokasi dana MTQ dengan agenda birokrasi kedinasan.
“Penyelenggara MTQ tingkat Provinsi Maluku Utara ini biayanya lebih rendah, sementara biaya untuk rapat OPD di hotel bintang 4 terbilang lebih besar. Ini sangat disayangkan,” kata Fardal. Selasa (23/06/2026)
Fardal yang memantau langsung di lokasi acara, Ia mengungkapkan adanya kelalaian besar dari pihak panitia pelaksana. Menurutnya, sejak kemarin pagi hingga hari ini, panitia justru tidak berada di tempat tugas. Akibatnya, pelaksanaan cabang lomba krusial seperti Tilawah anak-anak, remaja, dan dewasa terkesan seadanya dan jauh dari kesan meriah.
Kekacauan manajemen ini terbukti saat dewan hakim terpaksa turun tangan mengambil alih peran kepanitiaan yang kosong. Fardal mengatakan jika dewan hakim tidak bergerak cepat, dipastikan lomba Tilawah di basement masjid tersebut tidak akan berjalan.
“Yang bertindak sebagai Master of Ceremony (MC) juga tidak disiapkan oleh panitia. Akhirnya Dewan Hakim mengambil alih tugas MC, yaitu Ustadz Edy dan Ustadz Mujais Swalanda,” ucap Fardal
Kritik Balik Terhadap Pernyataan Wakil Gubernur
Kondisi pelaksanaan yang minim persiapan ini dinilai bertolak belakang dengan pidato sambutan Wakil Gubernur Maluku Utara, KH. Sarbin Sehe. Dalam sambutannya, Wagub sempat membandingkan prestasi kafilah MTQ Maluku Utara dengan kaum Nasrani di ajang Pesparawi Nasional yang kerap meraih juara, sementara putra-putri Maluku Utara di ajang MTQ Nasional dinilai minim prestasi.
Wagub bahkan menyatakan jika polanya tetap sama, kafilah Maluku Utara tidak perlu diikutkan lagi di tingkat nasional. Pernyataan tersebut direspons keras oleh Fardal. Ia menilai Wagub perlu meluruskan cara pandangnya terkait pembinaan keagamaan di Maluku Utara.
“Dewan hakim hanya menilai secara jujur dan objektif di tingkat provinsi. Siapa yang juara 1, wajib diikutsertakan oleh Pemprov ke tingkat nasional. Soal juara di sana, itu urusan dewan hakim nasional. Pertanyaannya sekarang, seberapa besar kepedulian Pemprov dan LPTQ Malut yang diketuai Sekda dalam melakukan pembinaan qari dan qari’ah? Apakah pernah mendatangkan dewan hakim nasional untuk pembinaan berkala?,” ujar Fardal.
Fardal jika dibandingkan dengan Provinsi DKI Jakarta yang melakukan karantina dan tes berkala kepada pesertanya selama enam bulan penuh sebelum MTQ Nasional dimulai sementara yang dialami oleh peserta MTQ di Maluku Utara berbanding terbalik. Fardal juga menyayangkan analogi komparatif yang digunakan oleh Wagub.
“Ini Al-Qur’an, tidak pantas seorang kiyai membandingkannya dengan nyanyian-nyanyian Pesparawi yang saat ini dilaksanakan di Manokwari. Sekali lagi, tidak pantas seorang Kiyai Sarbin sekaligus Wakil Gubernur membandingkan pelaksanaan MTQ dengan Pesparawi,” tandasnya.
Fardal menggambarkan atmosfer pembukaan MTQ tingkat Provinsi Maluku Utara kali ini sangat memprihatinkan, lantaran sepi dari antusiasme masyarakat, dan terkesan tanpa persiapan matang.
“Pelaksanaannya seperti kita antar belanja dalam acara perkawinan. Sunyi, tidak ada warga Sofifi yang menghadiri. MTQ tingkat provinsi tapi gaungnya seperti tingkat kelurahan,”ucap Fardal dengan nada kecewa.







