Oleh : Siti Nurhayati Abdullah S.H
Penulis adalah Ketua KOPRI PKC PMII Maluku Utara
Mgn-news.com, Ternate – Maret 2026 menjadi sebuah persimpangan spiritual yang agung. Di satu sisi, dunia memperingati International Women’s Day (IWD) sebagai monumen perjuangan kesetaraan. Di sisi lain, fajar Ramadhan menyingsing, membawa seruan penyucian jiwa. Namun, di tengah hamparan sajadah dan gema takbir, kita masih mendengar rintih lara perempuan yang terhimpit oleh stigma, kekerasan, dan pelecehan yang kian merajalela.
Bagi kader PMII, sinkronisasi ini bukan sekedar kebetulan kalender. Ini adalah ujian tauhid, sejauh mana keimanan kita mampu memanusiakan perempuan sebagai mahluk mulia (karamah insaniyah), bukan sekadar pelengkap domestik atau objek viralitas yang dieksploitasi.
Akar Perjuangan, Dari New York hingga Yatsrib
Sejarah mencatat bahwa IWD lahir dari rahim perlawanan buruh perempuan di New York pada awal abad ke-20 yang menuntut hak suara, pemangkasan jam kerja, dan upah yang layak. Mereka bergerak melawan sistem yang menganggap tenaga perempuan sebagai komoditas murah tanpa martabat.
Namun, jauh sebelum fajar 1908 itu menyingsing, Islam telah melakukan revolusi kemanusiaan yang jauh lebih radikal di tanah Arab. Di masa jahiliyah, bayi perempuan dikubur hidup-hidup dan perempuan dianggap sebagai harta warisan yang bisa dipindahtangankan. Rasulullah SAW datang membawa risalah yang mendekonstruksi total nalar tersebut. Beliau meletakkan perempuan sebagai syaqaiqur rijal, memberikan hak waris, hak pendidikan, dan hak politik yang saat itu tak terpikirkan oleh peradaban manapun.
Jika IWD adalah perjuangan sosio-politik modern, maka Islam adalah akar spiritual yang memproklamirkan bahwa kemuliaan seseorang tidak terletak pada jenis kelaminnya, melainkan pada ketakwaannya (Inna akramakum ‘indallahi atqakum).
Ramadhan; Puasa dari Syahwat Kekuasaan dan Penindasan
Ramadhan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga. Esensi puasa adalah jihad an-nafs—melawan nafsu untuk mendominasi dan melawan kedzoliman antar manusia. Sangatlah ironis jika kita mengejar kesalehan ritual di masjid, namun menutup mata terhadap kaum perempuan yang masih merasa tidak aman di ruang publik atau terancam di ruang domestik.
Menindas perempuan berarti menodai kesucian puasa itu sendiri. Kesalehan yang hakiki tidak akan pernah lahir dari tangan yang masih mengepal untuk memukul, atau lisan yang masih tajam untuk melecehkan martabat perempuan melalui victim blaming di media sosial.
Merespon Isu Kontemporer: Tajamnya Luka di Ruang Digital
Tahun ini, IWD dibayangi oleh tren gelap kekerasan seksual yang berpindah wajah ke ruang digital. Cyber Gender-Based Violence (CGBV) telah menjadi “pedang” baru yang menghujam mental perempuan. Isu ini sering kali hanya menjadi trending topic yang dingin & ramai diperbincangkan saat viral, namun sunyi saat korban mencari keadilan hukum.
Paradigma PMII mengajarkan bahwa keberpihakan pada kaum tertindas (mustad’afin) adalah mandat ideologis. Kita harus tajam mengkritisi ketumpulan penegakan hukum yang masih sering kali mengabaikan hak-hak korban. Bagaimana mungkin kita merayakan kemajuan peradaban jika perempuan masih harus berjuang sendirian melawan trauma, sementara pelaku berlindung di balik relasi kuasa yang korup?
Elegansi Pergerakan: Menebar Maslahah, Menegakkan Keadilan
Pergerakan kita harus tampil elegan namun tak kompromi. Restorasi Tafsir: Menggaungkan kembali sirah Nabawiyah tentang bagaimana Rasulullah memuliakan Sayyidah Khadijah sebagai mitra strategis dan Sayyidah Aisyah sebagai intelektual besar, untuk melawan tafsir patriarki yang kaku.
Solidaritas Tanpa Sekat: Menjadikan momentum IWD sebagai komitmen kolektif untuk menciptakan ruang aman. Tidak boleh ada tempat bagi predator seksual di media sosial maupun ruang-ruang publik seperti tempat kerja, lingkungan pendidikan maupun organisasi.
Keadilan Struktural: Mendesak pemangku kebijakan untuk tidak hanya menjadikan isu perempuan sebagai pemanis pidato, tetapi menuangkannya dalam perlindungan nyata yang aksesibel bagi setiap lapisan masyarakat.
Penutup: Ibadah di Atas Garis Kemanusiaan
Jika Ramadhan adalah waktu untuk membersihkan diri, maka mari kita bersihkan nalar penindasan yang berkarat. IWD adalah pengingat bahwa perjuangan belum usai selama masih ada satu perempuan yang merasa terancam saat melangkah keluar rumah.
Jangan biarkan doa-doa kita melangit sementara rintihan korban kekerasan di bumi kita abaikan. Sebab, ibadah yang paling agung adalah saat kita mampu menjadi pelindung bagi mereka yang lemah dan menjadi suara bagi mereka yang dibungkam.







