Oleh : Bachtiar S. Malawat

Mahasiswa Pendidikan IPA Unutara

 

Kali ini penulis ingin menyampaikan beberapa hal yang menjadi hambatan dalam proses berjalannya pendiidkan di Indonesia. Sebelumnya penulis pernah membahas di opini sebelumnya “Pendidikan Indonesia : Habis Gelap Terbitlah Gelap” tulisan itu penulis angkat sebagai respon atas efesiensi anggaran yang berimpek pada praktek birokrasi yang gagal. Olehnya penulis merasa tertarik untuk menulis prihal birokrasi secara khusus. Perlu pembaca ketahui bahwa saat ini Pendidikan Indonesia belum menemukan titik orintasi yang mengacu pada perintah konstitusi yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Tujuan ini sengaja di angkat akibat corak kehidupan bangsa yang secara sadar terbentur pada konflik kecerdasan masyarakat dimasa jajahan kolinial belanda, olehnya pendidikan menjadi isu sentral dalam menjaga keutuhan bangsa. Hal ini juga menjadi landasan utama lahirnya para pemikir-pemikir hebat yang mecanagkan gagasan pendiidkan untuk tanah air diantaranya Tan Malaka dan KH Dewantara.

 

Dalam kesadaran demokrasi, pendidikan menjadi senjata utama guna menebas kebodohan. Pendidikan layaknya pelita guna menerangi negara dalam masa-masa kegelapan. Itulah Kh Dewantara menegaskan bahwa pendidikan adalah proses pembudayaan manusia yang beradab. Pendidikan merupakan perjuangan manusia melawann kodrat alam dan jaman. Ucapan ini berangkat dari kesadaran atas kemerdekaan bangsa Indonesia. Itu sebabnya bagi beliau, pendiidkan merupakan hal yang paling strategis dalam sebuah negara.

 

Degan upaya yang dilakukan, harapan serta keyakinan akan terus mengalir bersama doa-doa, harapannya pendidikan menjadi senjata mitahir dalam mewujudkan bangsa Indonesia yang raya. Ditegah pergolakan dunia yang semakin moderen, sistem pendidikan juga dituntut untuk dapat bersahabat degan tantangan zaman. Kendati demikian, kita tidak bisa pungkiri bahwa pendidikan adalah tujuan hidup masyarakat Indonesia. Sudah menjadi kebutuhan hidup, hal ini dibuktikan dengan berbagai upaya yang dilakukan masyarakat Indonesia untuk berbondong-bondong megantarkan anak-anak mereka untuk mengeyam pendidikan sekalipun pertarungan hidup dan mati. Lembaga pendidikan menjadi laboratirium peradaban bagi manusia, hal ini diyakini karena pendidikan dapat memenusiakan mansuai yang masuk akal.

 

Selain itu, harapan yang sangat besar muncul dari kalangan masyarakat, masyarakat Indonesia menjadikan pendidikan sebagai mimpi baik disepanjang perjalanan negara, pasalnya pendidikan dapat menghantarkan masyarakat pada kemerdekaan berpikir, berprilaku maupun ekonomi, hal ini yang menjadikan tanggung jawab negara sebab dengan masyarakat yang berpendidikan mampu mewujudkan tatanan peradaban yang maju, selain itu pendidikan juga dapat dipercaya mampu menciptakan tatanan sosial yang baik serta peran ekonomi politik yang strategis. Akan tetapi tantangan pendidikan di era moderen juga meliputi tatanan dunia kerja, pendidkan menjadi syarat dalam urusan tenaga kerja/birokrasi, orang-orang pendiidkan menjadi keharusan dalam tubuh birokrasi baik pemerintahan maupun pendiidkan.

Dalam negara, posisi pendidikan sebagai mesin pencetak sumberdaya manusia, hal ini dikarenakan pendidikan mampu menjadi lokomotif perubahan disegala sektor. Pendidikan memegang kontrol sosial, politik dan ekonomi. Hal ini jelas, dalam realitas sosial pendiidkan menjadi syarat utama. Akibatnya hanya orang-orang terpelajar degan titel dan bergelar yang bisa menempati tempat-tempat stategis dalam dunia kerja terutama dalam birokrasi baik politik, ekonomi bahkan pendidikan. Hal ini diupayakan untuk mencitptakan lingkungan kerja yang efektif dan efesian dalam menjalankan misi sebuah perusahaan tertentu, di dalam lembaga pendidikan juga demikian, strutural lembaga pendidikan harus di isi oleh orang-orang yang berpendidikan guna mewujudkan pendidikan yang berkualitas dan managemen pendidikan yang sempurna.

 

Olehnya dominasi orang-orang berpendidikan menjadi harapan baru untuk birokrasi pendiidkan kedepan, hanya orang-oarag tertentu yang dapat dipercaya mewujudkan sebuah perubahan terhadap lembaga pendidikan, itulah didalam dunia akademik dosen dan tenaga pengajar dituntut untuk kompeten dalam bidang kerja masing-masing. Hal ini juga merupakan tujuan utama birokrasi dalam memajukan lembaga pendidikan. Oleh karena itu birokrasi digunakan untuk menjalankan tugas-tugas dan tanggung jawab sesuai aturan dan ketentuan yang ada. Akan tetapi dewasa ini jika melihat perkembagan serta sistem pendidikan yang dominasi birokrasi dalam tubuh pendiidkan tidak berjalan sesuai degan fungsinya. Kebanyakan lembaga pendidikan menjadikan birokrasi sebagai kekuatan dalam memperolah keuntungan. Birokrasi pendidikan yang diharapkan mampu menjamin keslamatan pendidikan tampaknya masih samar-samar. Hal ini jelas, sebab didalam birokrasi terdapat sistem baru berupa kontrol politik. Iyahh, kontrol politik yang dilakukan atas pembagian cara kerja birokrasi.

 

Dominasi birokrasi dan kontrol politik yang berlebih-lebihan tak hanya datang dalam tubuh birokrasi pendidikan itu sendiri, akan tetapi ada pihak lain yang secara sadar mampu mempegaruhi arah pendidikan, bagi pendidikan formal dan tradisional hal ini terjadi akibat budaya patronase yang dibagun atas kekuasaan semata. Oarang-oarang di linih pemerintahan juga dapat menganggu arah kebijakan lembaga pendidikan. Fenomena semacam ini akibatnya melahirkan organisasi dan kultur kampus yang tidak mendukung proses berjalanya aktivitas pendidikan yang diharapkan mampu melahirkan lulusan terbaik.

Kampus dan sekolah, yang bersifat birokratis sentralistis cenderung menimbulkan rigiditas dalam proses pendidikan, karena pendidikan diperlakukan secara klasikal, yang artinya model birokrasi yang bersifat instruksi. Selain itu juga sistem pendidiakn seolah-olah seperti mekanis layaknya suatu industri yang bisa dilaksanakan karena instruksi dari pusat. Akhirnya dominasi birokrasi dak kontrol politik menimbulkan kultur yang terbilang buruk dilingkungan kampus maupun sekolah. Para staf maupun dosen lebih setia berkorban serta tunduk dan patuh terhadap keputusan-keputusan yang diambil sepihak oleh kepala sekolah dan rektor, sementara kepala sekolah dan rektor lebih tunduk terhadap atasan baik pejabat publik atau pemerintah dalam hal ini mentri atau presiden daripada memperdulikan nasib bawahan bahkan siswa atau mahasiswa-nya. Hal semcam ini yang tentu mempengaruhi keberlangsungan pendiidkan. Akibatnya pendidikan Indonesia akan gagal sebagai laboratirium peradaban yang dikadang-kadangkan menjadi jawaban atas permasalah yang terjadi dilingkungan masyarakat yang di isi oleh orang-orang berpendidikan.

 

Disis lain, dominasi birokrasi juga seringkali terjebak pada praktek kapitalis, Nuraini Sayomukti dalam bukunya “Teori-teori Pendidikan” mengkritisi pendidikan yang dikapitalisasi, beginya kapitalisasi pendidikan adalah ancaman terhadap dunia pendidikan. Hal ini karena berpengaruh pada beberapa hal pertama: Lembaga pendidikan lebih memprioritaskan profit daripada kualitas pendidikan, kedua: Pendidikan diperjualbelikan sebagai prodak, ketiga: Lembaga pendidikan dijadikan sebagai alat pencapaian modal yang sebanyak-banyaknya. Padahal pendidikan merupakan kebutuhan dasar manusia yang tidak bisa dilepaspisahkan degan kultur masyarakat setempat. Akan tetapi degan adanya praktek kapitalisasi pendidikan seolah-olah ada ketimpangan yang sangat serius. Hal ini perlu dipertegas bahwa lembaga pendidikan adalah lembaga yang bertujuan untuk mengembangkan potensi serta kemampuan manusia bukan alat yang diperjualbelikan.

 

Oleh karena itu, penulis mengajak agar sekolah maupun perguruan tinggi perlu melakukan reformasi ke dalam birokrasi pendidikana yang mendasarkan pada prinsip komunikatif dan nilai-nilai etik pendiidkan (Integritas, kejujuran, tanggungjawab, toleransi dan empati) Birokrasi setidaknya tidak hanya di isi oleh orang orang yang berpendidikan akan tetapi perlu juga kesehatan jiwa dan mental yang tidak rusak agar tidak terbawa arus kepentingan dan merusak wajah pendidikan Indonesia. Akhir Kata : Kesempurnaan pendidikan dan kebudayaan yang sesuai degan sareat islam bagi segenap rakyat Indonesia dan ummat manusia. Semoga Allah senantiasa meridahi aktifitas kita manakala kita meyimpang. Muslim Cendikia Pemimpin.