Yusmiyanti Y Hamisi_ ( Ketua Kerukunan Pelajar Mahasiswa Galela KPMG-MU )
Pagi rentang itu, dibalik pecahnya mentari menyinari bumi hibualamo. Suara tangis terdengar dibalik ruang kecil nan sunyi tanpa suara,_sang pankluk perdamaian telah dipanggil oleh yang maha kuasa_.
Kabar duka terdengar di seantero bumi moloku kie raha, tetesan air mata terlihat dari ujung Apulea sampai pasir putih. Terdengar suara tangis paling pecah dibalik kabut air talaga di bawah kaki gunung tarakani, anak kecil itu terseduh-seduh menatap kosong tanpa bicara, angin berbisik seakan bertanya:
Kenapa engkau menangis?
”Bagaimana saya tidak menangis, sang penakluk telah pergi, tersisah kenangan dimana saya melihat di masa itu mama tidak pernah kelaparan, suara gong dan tifa jadi nyanyian paling merdu, tidak ada pecah belah antar sudara,tide-tide dan cakalele jadi tarian paling sakral untuk pemersatu”_ (jawabnya).
Angin, bolehkah saya menitipkan sepenggalan surat ini untuknya?.
Terbangkan surat ini sampai tuhan-pun tau bagaimana saya kehilangnnya.
_ISI SURAT_
_“Ya jou giki moi, maro madeka mana au kabar lo pa ise kawa duma nagala maoras ya ado oma jobo. Kangonaka duma to sabea de tosi golo do’a marongalah ka nang kolano moi mana surgaka nou hado, toma do’a de to ari koloko dasiri poli jou eee”_ (bahasa galela)
Artinya:Ya tuhan yang maha esa, selama ini kabarnya sudah tidak terdengar lagi, Namun mungkin sudah saatnya beliau pergi. Hanya kepada engkau saya sholat/ibadah dan berdoa yang namanya sang penakluk ini tolong tempatkan dia di surga, saya berdoa dengan air mata karena ini terlalu sakit tuhan.







