Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara, Abubakar Abdullah (Istimewah).

TIDORE – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Provinsi Maluku Utara, Abubakar Abdullah, menegaskan akan segera turun tangan mengecek langsung proyek Revitalisasi Satuan Pendidikan di SMK Negeri 1 Kota Tidore Kepulauan.

Langkah ini diambil menyusul adanya pengakuan dari pihak sekolah yang dengan sengaja menurunkan spesifikasi teknis material beton pada proyek senilai Rp1,8 miliar tersebut.

Proyek strategis yang dibiayai oleh APBN Tahun Anggaran 2026 ini menuai sorotan tajam setelah pihak sekolah kedapatan mengganti penggunaan besi ulir menjadi besi polos biasa ukuran 12. Tindakan sepihak ini diduga melanggar Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang telah ditetapkan.

Saat dikonfirmasi mengenai sikap dinas terhadap diskresi teknis yang diambil kepala sekolah demi mengejar target administratif mingguan, Abubakar Abdullah memberikan respons singkat namun tegas.

“Nanti kita cek ke lapangan,” ujar Abubakar, Sabtu (24/10/2026).

Sebelumnya, Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Kota Tidore Kepulauan, Ahmad Usman, berdalih bahwa perubahan spesifikasi tersebut terpaksa dilakukan akibat kelangkaan material di penyedia lokal Tidore. Ahmad menyebutkan, jika harus memesan besi ulir dari Surabaya, pengiriman akan memakan waktu hingga satu bulan.

Keterlambatan tersebut dinilai akan mengancam target pelaksanaan proyek swakelola oleh Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP) yang dibatasi waktu hanya 140 hari kalender, terhitung sejak 22 Juli hingga 3 Desember 2026.

“Pihak toko menjelaskan ketersediaan besi ulir jarang dipakai oleh tukang bangunan di Tidore. Sementara kami dikejar progres mingguan yang diminta kementerian,” kata Ahmad saat dikonfirmasi pada hari yang sama.

Meskipun demikian, keputusan mengganti besi ulir menjadi besi polos di luar dokumen perencanaan tetap memicu kekhawatiran publik. Secara teknis konstruksi, besi ulir dan besi polos memiliki daya lekat serta kapasitas menahan beban struktur bangunan yang berbeda signifikan.