Potret: Suana Forum Diskusi
Mgn-news.com, Sofifi – Menyongsong 26 Tahun HUT Provinsi Maluku Utara (Malut),
Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Malut menyelenggarakan kegiatan bertajuk Sosialisasi dan Penguatan Moderasi Beragama di Lingkungan ASN Pemerintah Provinsi Maluku Utara”
Kegiatan tersebut menghadirkan tiga narasumber yang memaparkan materi baik secara langsung maupun online, kepada kepala OPD dan ratusan ASN di lingkup Pemprov Malut, menjadikan FKUB mempertegas peran Ormas dalam menjaga keberlangsungan hidup dengan berbangsa dan bernegara dalam kerukunan umat beragama.
Pemateri di antaranya adalah Wakil Gubernur Maluku Utara KH. Sarbin Sehe, yang mewakili pemerintah dengan materi “Kebijakan Pemerintah Daerah dalam Penguatan Kerukunan Umat Beragama”. Wakil Gubernur menjelaskan bahwa, moderasi beragama bukan memoderatkan agama, tapi memoderatkan cara pandang, sikap dan perilaku beragama.
Diketahui, Wagub yang juga mantan Ketua Tanfidziyah NU Maluku Utara itu menjelaskan tentang indikator moderasi beragama diantaranya adalah komitmen kebangsaan dan menjaga tradisi atau kearifan lokal yang hidup ditengah-tengah masyarakat, dan itu pada dasarnya tidak bertentangan dengan ajaran agama, tegas Sarbin.
Wagub Sarbin menambahkan, Indonesia merupakan negara yang memiliki enam agama resmi, olehnya itu, persatuan tidak dapat terwujud apabila kita mengabaikan nilai-nilai toleransi.
“Maka pentingnya moderasi beragama ditanamkan kepada umat beragama sebagai upaya merajut cinta kasih terhadap sesama umat manusia untuk menjaga keharmonisan hidup berbangsa dan bernegara” tandas Sarbin
Sementara Prof. Dr. KH. Sahiron Syamsuddin, MA., Ph.D selaku Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama, yang hadir secara online memaparkan tentang “Nilai-nilai Universal Agama dalam Perspektif Islam”. Dalam pemaparannya menjelaskan bahwa cinta kepada Allah harus dimanifestasikan kepada cinta terhadap tanah air (hubbul wathan minal iman).
“Cinta tanah air adalah bagian dari iman kepada Tuhan” tutur Sahiron
Selain itu materi yang dibawakan secara offline, oleh Staf Khusus Menteri Agama RI Bidang Pendidikan, Ormas dan Moderasi Beragama, KH. Faried F. Saenong, M.A., M. Sc., Ph.D yang menjelaskan “Etika Beragama; Dari Perbedaan menuju persamaan untuk kemanusiaan.
“kultur Indonesia adalah selain terbuka, juga egalitarian dan juma menerima orang, itulah prinsip moderasi beragama” jelas Faried selaku, Wakil Ketua Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU).
Diskusi mengerucut pada bagaimana memaknai kehidupan beragama sebagai satu kesatuan dalam berbangsa dan bernegara.
Adnan Mahmud, Ketua FKUB sekaligus moderator dalam sesi diskusi tersebut menjelaskan bahwa Maluku Utara adalah miniaturnya Indonesia, maka sudah sejatinya kita bangun Indonesia dari Maluku Utara, sebab Maluku Utara adalah majemuk baik etnis, suku, budaya dan agama.
Tegas Adnan yang juga Sekretariat PW ISNU Malut ini juga menjelaskan terkait moderasi beragama mengembangkan cara pandang beragama yang moderat, yaitu tidak ekstrim kanan yang akan melahirkan fundamentalisme, radikalisme dan terorisme. dan tidak ekstrim kirim yang melahirkan liberalisme.
terkait nilai-nilai Universal dalam perspektif Islam, menurutnya Konsep Islam sebagai Rahmatan Lil Alamin (Islam sebagai rahmat, red) merupakan sebuah keniscayaan untuk menerima siapa saja tanpa harus mempersoalkan apa agamanya.
“Orang beragama sejatinya menebarkan kasih sayang dan cinta kasih sesama, dengan cara seperti ini ini adalah dimaksudkan untuk merawat dan membentuk lingkaran kasih sayang dalam beragama” tutup Adnan







