Mgn-news.com, Sofifi,-Sektor perikanan Provinsi Maluku Utara patut menjadi perhatian serius di masa kepemimpinan Sherly-Sarbin, dengan potensi yang cukup tinggi perikanan Maluku Utara menjadi pilar green ekonomi jika ditata dan dikelola dengan baik.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Maluku Utara, Abdullah Assagaf, mengatakan bahwa sektor perikanan Maluku Utara membutuhkan terobosan baru sebagai langkah inisiatif, mengingat Maluku Utara selalu bergantung dengan Provinsi Jawa Timur dalam pengadaan ekspor.
“kita memiliki kualitas ikan tuna yang luar biasa, sehingga kita perlu melakukan terobosan baru terkait hilirisasi sektor perikanan Maluku Utara dengan membuka pintu ekspor yang melakukan penerbangan langsung ke negara tujuan” ujar Abdullah, Senin 21 April 2025.
Terkait dengan pengadaan pelabuhan ekspor Maluku Utara untuk mengalihkan tata niaga tidak lagi bergantung ke Jawa Timur dan Manado, Abdullah menjelaskan kolaborasi lintas sektor sesama institusi sangat diperlukan guna membangun perekonomian yang seimbang agar memiliki dampak yang signifikan, mengingat Gubernur Sherly Tjoanda yang memiliki orientasi bisnis sudah tentu punya perhitungan terkait hilirisasi perikanan Maluku Utara.
“Soal pelabuhan saya tidak bisa berkomentar lebih, itu tergantung kementerian perhubungan, yang kita perlukan sekarang adalah kolaborasi lintas sektor, agar tidak lagi bergantung ke Jawa Timur dan Manado yang sekarang sudah melakukan penerbanbangan langsung ke Negara tujuan. Semoga Gubernur kita Sherly Tjoanda dengan visi misi yang jelas, serta memiliki orientasi bisnis, bisa melihat ini sebagai potensi agar melakukan terobosan baru” Jelas Abdullah.
Diketahui bahwa komoditi perikanan Maluku Utara berupa cumi, ikan tenggiri, layur beku, tuna, dan rumput laut yang semuanya masuk pasar ekspor sehingga perlu dilihat sebagai potensi daerah yang dapat dimanfaatkan dengan baik kedepan.
“memang benar, komoditi berupa cumi, ikan tenggiri, layur beku, tuna, dan rumput laut semuanya masuk pasar ekspor dengan volume produksi mencapai 3.800 ton per tahun” Tutup Abdullah. (red)







